Foto: Green Chameleon
Jejaring MGMP dan Kekuatan Kolaborasi Guru
Seorang guru dari Cilacap bertemu dengan guru dari Banyumas dalam sebuah pertemuan MGMP gabungan tingkat provinsi. Mereka tidak saling kenal sebelumnya. Tapi dalam sesi diskusi kelompok kecil, mereka duduk satu meja dan mulai mengobrol. Awalnya basa-basi: mengajar di kelas berapa, kurikulumnya bagaimana, siswa-siswanya seperti apa. Kemudian percakapan berubah serius. Guru Cilacap bercerita tentang proyek menulis cerita rakyat yang ia lakukan bersama siswanya. Setiap anak diminta mewawancarai kakek-neneknya tentang cerita rakyat di desa mereka, lalu menulis ulang dengan bahasa mereka sendiri. Anak-anak pulang dengan tugas mewawancarai, mencatat, lalu menulis.
"Hasilnya luar biasa," katanya. "Mereka jadi tahu cerita-cerita yang hampir punah karena tidak pernah diceritakan lagi. Dan yang lebih penting, mereka belajar bahwa nenek moyang mereka punya cerita yang tidak kalah seru dari film-film asing yang mereka tonton di YouTube."
Guru Banyumas mendengarkan dengan mata berbinar. "Saya ingin melakukan itu di sekolah saya. Tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Apa saja langkah-langkahnya?"
"Saya bisa kirimkan panduan yang saya buat," tawar guru Cilacap. "Nanti saya share lewat grup. Tinggal disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Yang penting jangan terlalu kaku, biarkan anak-anak berekspresi."
Dari satu percakapan itulah lahir sebuah program kolaborasi. Tidak diinstruksikan oleh dinas. Tidak masuk dalam anggaran. Tidak tercatat dalam laporan resmi. Tapi nyata dan berdampak. Berbulan kemudian, dua sekolah dari dua kabupaten berbeda itu melakukan pertukaran cerita rakyat secara daring. Siswa Cilacap membaca dan menanggapi cerita rakyat Banyumas, dan sebaliknya. Mereka saling memberi komentar, saling mengapresiasi. Tanpa disadari, mereka sedang membangun jejaring literasi yang melampaui batas-batas administratif.
Kolaborasi semacam ini tidak akan terjadi tanpa adanya ruang pertemuan. MGMP, dalam fungsi idealnya, adalah ruang itu. Tapi agar jejaring ini terbentuk dan bertahan, MGMP tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam silo yang terisolasi. Dibutuhkan kesadaran bahwa ilmu tidak berhenti di batas kecamatan. Dibutuhkan kerendahan hati untuk belajar dari siapa pun, termasuk dari guru di daerah lain yang mungkin memiliki sumber daya lebih terbatas tetapi ide-idenya justru lebih kreatif.
Saya telah menyaksikan sendiri bagaimana jejaring MGMP bisa menjadi kekuatan yang luar biasa. Di satu sisi, ia menjadi saluran distribusi praktik baik. Ketika seorang guru di pelosok menemukan metode yang efektif mengajarkan teks debat dengan menggunakan isu-isu lokal yang dekat dengan siswa, ia bisa membagikannya ke rekan sejawat di daerah lain melalui jaringan ini. Di sisi lain, ia menjadi tempat bertanya yang tidak menghakimi. Guru tidak perlu malu atau sungkan untuk mengatakan, "Saya tidak paham cara mengajar teks ulasan biografi. Ada yang bisa bantu?" Di ruang MGMP yang sehat, pertanyaan seperti ini disambut dengan bantuan, bukan cemoohan.
Salah satu contoh paling nyata adalah ketika Kurikulum Merdeka mulai diterapkan secara nasional. Banyak guru bingung dengan perubahan format dari RPP menjadi modul ajar. Di berbagai grup MGMP, terjadi saling tukar dokumen, saling review, dan saling memberi masukan. Yang sudah paham membantu yang masih bingung dengan sabar. Yang sudah membuat modul membagikannya untuk diadaptasi, bukan untuk disalin mentah-mentah. Kolaborasi ini mungkin tidak terlihat oleh pengambil kebijakan di Jakarta, tetapi dampaknya sangat nyata: guru tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan kurikulum yang besar.
Tantangan utamanya adalah kesinambungan. Jejaring ini sering kali bersifat personal: jika penggeraknya pindah tugas atau pensiun, hubungan bisa putus dan pengetahuan yang sudah terbangun bisa hilang. Karena itu, jejaring perlu dibangun secara kelembagaan, bukan hanya personal. Dokumentasi praktik baik, sistem pendataan anggota, jadwal komunikasi rutin lintas daerah perlu dijaga agar jejaring tidak mati ketika satu orang pergi. Dibutuhkan regenerasi kader secara sadar dan terencana agar pengetahuan tidak hilang begitu saja.
Kekuatan kolaborasi guru melalui MGMP adalah aset yang terlalu berharga untuk dibiarkan berjalan setengah hati. Saya mendorong setiap pengurus MGMP, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk mulai memikirkan bagaimana memperluas dan memperkuat jejaringnya. Tidak perlu dimulai dengan proyek muluk-muluk — mulai dengan membuat grup percakapan dengan MGMP di kabupaten tetangga. Atau mengadakan satu pertemuan bersama dalam setahun dengan tema yang relevan. Dari hubungan sederhana yang dibangun secara konsisten, benih kolaborasi akan tumbuh dan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.
Bayangkan jika setiap MGMP di Indonesia tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu jaringan nasional guru Bahasa Indonesia. Berapa banyak praktik baik yang bisa mengalir? Berapa banyak guru yang tidak lagi merasa sendirian? Berapa banyak siswa yang akan merasakan dampak positifnya? Saya percaya jawabannya sangat besar. Dan semua itu dimulai dari langkah kecil yang kita ambil hari ini.
Satu percakapan bisa mengubah satu kelas. Tapi satu jejaringan yang solid bisa mengubah sistem. Mari kita bangun jejaring itu bersama, satu percakapan pada satu waktu.
Saya pernah mendengar kisah seorang guru di Flores yang bergabung dengan grup MGMP tingkat nasional. Setiap malam, ia menyisihkan waktu untuk membaca diskusi yang terjadi di grup itu. "Dari situ saya tahu bahwa guru di Jawa juga punya masalah yang sama dengan saya," katanya. "Saya tidak lagi merasa bodoh ketika gagal. Saya belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses." Jejaring MGMP, pada level yang paling manusiawi, adalah tempat pulang bagi guru yang lelah.
