Foto: Element5 Digital
Komunitas Guru dan Masa Depan Literasi Indonesia
Di sebuah grup percakapan guru Bahasa Indonesia, seorang perempuan dari Pulau Rote mengirim pesan pada suatu malam. Ia bercerita tentang perpustakaan kecil yang baru saja ia dirikan di desanya. Hanya dua rak kayu buatan sendiri dengan sekitar tiga puluh buku bekas sumbangan — sebagian dari teman, sebagian dari tetangga, sebagian dari sumbangan orang tua murid. Tidak ada koleksi terbaru, tidak ada komputer, tidak ada AC. Tikar plastik digelar di lantai sebagai tempat duduk anak-anak.
"Tapi setiap pulang sekolah, anak-anak berdatangan," tulisnya. "Mereka duduk di tikar, membaca bergantian. Ada yang baca komik, ada yang baca cerita rakyat, ada yang baca buku pelajaran kakak kelas. Satu buku bisa dibaca lima orang dalam sehari. Sampai kertasnya lusuh."
"Saya hanya ingin mereka punya tempat membaca. Di desa saya tidak ada toko buku. Perpustakaan desa sudah tutup sejak pandemi. Kalau bukan saya yang mulai, siapa lagi?"
Pesan itu tidak dibumbui foto estetik atau narasi heroik yang dramatis. Tapi dalam hitungan jam, anggota grup mulai bergerak. Seorang guru di Jakarta menawarkan mengirim buku bekas layak pakai dalam jumlah banyak. Guru lain di Bandung bertanya bagaimana cara memulai perpustakaan serupa di kampungnya. Seorang guru di Kalimantan bercerita bahwa ia melakukan hal yang sama di desanya dan bersedia berbagi pengalaman agar tidak membuat kesalahan yang sama. Dalam satu malam, ide seorang guru menjadi gerakan lintas pulau.
Dari benang-benang kecil inilah masa depan literasi Indonesia ditenun. Bukan dari kebijakan megah yang diumumkan dengan konferensi pers dan spanduk besar yang biayanya bisa untuk membeli seribu buku. Tapi dari gerakan-gerakan kecil yang lahir dari kepedulian murni, dari satu guru ke guru lain, dari satu hati ke hati yang lain. Gerakan-gerakan ini jarang tercatat dalam statistik resmi, tetapi dampaknya nyata dan langsung dirasakan oleh anak-anak yang buku-bukunya menjadi lusuh karena terlalu sering dibaca.
Saya sering mendengar pertanyaan: siapa yang bertanggung jawab atas literasi di negeri ini? Jawaban saya sederhana: semua orang. Tapi jika harus menyebut satu pihak yang paling berpotensi dan paling strategis, saya akan menjawab tanpa ragu: komunitas guru. Bukan karena guru lebih hebat dari profesi lain, tetapi karena guru berada di posisi yang paling dekat dengan sumber masalah dan sekaligus pemegang kunci solusi.
Guru adalah pihak yang berhadapan langsung dengan siswa setiap hari. Mereka tahu persis di mana letak kesulitan siswa dalam membaca, apa yang membuat siswa enggan menulis, dan pendekatan mana yang berhasil menumbuhkan minat pada anak tertentu. Pengetahuan ini tidak bisa didapatkan dari buku teori atau seminar pelatihan yang pesertanya ratusan orang. Ia lahir dari pengalaman langsung di ruang kelas, dari interaksi dengan siswa yang unik setiap tahunnya. Dan ketika pengetahuan ini dibagikan dalam komunitas, dampaknya berlipat ganda. Seorang guru di ujung utara Sumatra bisa belajar dari pengalaman guru di ujung selatan Jawa tanpa harus melalui proses trial and error yang panjang.
Komunitas guru juga menjadi tempat pulang ketika semangat mulai pudar. Profesi guru, terutama di daerah terpencil, bisa sangat melelahkan. Bukan hanya karena beban kerja yang berat dan gaji yang terbatas, tapi juga rasa kesepian yang datang ketika tidak ada teman sebidang untuk bertukar pikiran. Seorang guru Bahasa Indonesia di sekolah kecil sering menjadi satu-satunya guru mata pelajaran itu di sekolahnya. Tidak ada rekan yang memahami perjuangannya dalam mengajarkan anak-anak menulis paragraf yang baik. Komunitas guru menjembatani kesenjangan ini. Lewat grup percakapan, pertemuan daring, atau forum MGMP, mereka menemukan bahwa perjuangan mereka adalah perjuangan bersama. Bahwa kegagalan yang mereka alami juga dialami oleh orang lain. Dan bahwa selalu ada jalan keluar jika mereka bersedia bertanya dan berbagi.
Tantangan literasi Indonesia memang besar. Berbagai survei internasional menempatkan kemampuan literasi anak Indonesia di peringkat bawah. Tapi saya percaya bahwa perubahan tidak akan dimulai dari angka atau kebijakan semata. Ia dimulai dari komunitas. Sekelompok guru yang memutuskan untuk tidak menunggu, tetapi bergerak. Mulai dari yang kecil: menghidupkan pojok baca, membacakan cerita di awal pelajaran, mengadakan diskusi buku, atau sekadar merekomendasikan bacaan ringan kepada siswa. Dan ketika gerakan-gerakan kecil ini saling terhubung dalam komunitas, ia akan menjadi kekuatan yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun.
Saya optimis tentang masa depan literasi Indonesia. Bukan karena ada program besar dari pemerintah, tetapi karena saya melihat sendiri bagaimana komunitas guru bergerak diam-diam namun pasti. Mereka tidak menunggu. Mereka tidak mengeluh. Mereka mulai dari apa yang ada. Dan dari ribuan titik kecil itu, saya percaya, literasi Indonesia akan bangkit.
Jika Anda seorang guru yang merasa sendirian dalam perjuangan literasi, carilah komunitas. Atau, jika belum ada, mulailah satu. Ajak dua atau tiga rekan terdekat yang sepemikiran. Buat grup percakapan di aplikasi pesan. Mulai dengan satu pertanyaan sederhana: "Apa yang sedang kamu baca?" Dari sana, percakapan akan mengalir dengan sendirinya. Dan dari percakapan, gerakan lahir.
Saya sering membayangkan apa yang akan terjadi jika setiap guru Bahasa Indonesia di Indonesia bergabung dalam setidaknya satu komunitas. Bukan hanya grup percakapan di ponsel, tetapi komunitas yang benar-benar aktif, tempat mereka saling mengenal, berbagi, dan tumbuh bersama. Mungkin kita tidak akan melihat perubahan dalam semalam. Tapi dalam lima atau sepuluh tahun, saya yakin wajah literasi Indonesia akan berbeda.
