Foto: Jaredd Craig
Literasi Bertumbuh dari Komunitas yang Saling Menguatkan
Pohon beringin tidak tumbuh besar dalam sehari. Saya teringat kata-kata seorang guru tua ketika saya masih muda dan baru mulai mengajar. "Mengajar itu seperti menanam pohon, Nak. Hasilnya tidak akan kamu lihat besok atau lusa. Mungkin tidak juga tahun depan. Tapi bertahun-tahun kemudian, ketika muridmu tumbuh menjadi orang dewasa yang suka membaca dan berpikir kritis, kamu akan tahu bahwa akar yang kamu tanam dulu tidak sia-sia. Tapi kamu harus sabar, karena pohon tidak bisa dipaksa tumbuh."
Kata-kata itu selalu kembali setiap kali saya merenungkan tentang komunitas. Seperti akar pohon yang saling menjalin di bawah tanah — tidak terlihat, tidak gemerlap, tidak menarik perhatian — komunitas guru adalah jaringan yang menopang pertumbuhan literasi dari bawah. Media mungkin tidak meliputnya, penghargaan mungkin tidak menyentuhnya, tetapi ia membuat sistem tetap berdiri ketika badai perubahan menerpa.
Saya menyaksikan kekuatan ini secara langsung ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu. Sekolah tutup, pembelajaran berubah total dalam hitungan hari, dan guru-guru dipaksa beradaptasi dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di saat-saat krisis itulah komunitas menunjukkan fungsi sejatinya. Ketika dinas pendidikan belum sempat mengeluarkan panduan resmi, grup percakapan guru sudah penuh dengan tautan webinar, modul daring, tips mengelola kelas jarak jauh, dan cara tetap terhubung dengan siswa. Yang lebih kuat teknologinya mengajari yang masih gagap dengan sabar. Yang lebih dulu menemukan metode efektif membagikannya tanpa diminta. Tidak ada yang disuruh, semua bergerak karena rasa tanggung jawab kolektif yang mendalam.
Saya teringat seorang guru di sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara Barat. Di desanya, sinyal internet sangat lemah dan tidak menentu. Ia tidak bisa mengikuti webinar video atau mengunduh materi dari cloud storage. Tapi ia memiliki semangat yang luar biasa. Setiap minggu, ia berjalan kaki lima kilometer ke bukit terdekat untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik. Di sana, di bawah pohon, ia mengunduh bahan ajar dari grup komunitas, lalu kembali ke desa untuk mencetak dan membagikannya ke siswa-siswanya.
"Kenapa repot-repot seperti itu, Bu?" tanya saya ketika bertemu dengannya di sebuah acara pelatihan. "Kenapa tidak menunggu saja sampai sinyal di desa membaik? Pasti ada yang bisa dilakukan."
Ia tersenyum, menggeleng pelan. "Siswa saya tidak bisa menunggu, Pak. Mereka butuh belajar sekarang. Kalau saya tunggu sinyal membaik, mereka ketinggalan materi. Saya tidak mau mereka dirugikan hanya karena saya malas berjalan."
Komunitas, dalam bentuknya yang paling murni, adalah sistem saling menguatkan. Bukan sekadar tempat bertukar informasi dan mengirim file. Tetapi tempat di mana setiap anggota merasa bahwa keberadaan mereka berarti, bahwa perjuangan mereka dihargai, dan bahwa mereka tidak sendirian. Di tengah tekanan administrasi yang menumpuk, kritik dari berbagai pihak, dan tantangan mengajar yang semakin kompleks, komunitas menjadi tempat pulang untuk memulihkan semangat yang terkuras.
Literasi tumbuh dari komunitas yang saling menguatkan karena literasi sendiri, pada hakikatnya, adalah aktivitas sosial. Membaca mungkin dilakukan secara personal dan sunyi, tetapi semangat untuk membaca lahir dari interaksi dengan orang lain. Ketika seorang guru bercerita tentang buku yang mengubah perspektif hidupnya di depan rekan-rekannya, ia sedang menyebarkan virus literasi. Ketika seorang guru lain merekomendasikan novel yang baru saja ia selesaikan dengan penuh antusiasme, ia sedang membangun jembatan antara satu pembaca dan pembaca lainnya.
Saya pernah bergabung dalam sebuah komunitas baca guru Bahasa Indonesia yang hanya beranggotakan dua belas orang di awal. Mereka sepakat untuk membaca satu buku dalam sebulan dan berdiskusi setiap akhir pekan melalui panggilan suara. Di bulan pertama, hanya delapan orang yang berhasil menyelesaikan bacaan tepat waktu. Di bulan kedua, sepuluh. Setelah enam bulan, diskusi mereka begitu hidup hingga harus dibatasi waktunya karena selalu kelebihan waktu — terlalu asyik berdebat tentang tema, karakter, dan pesan buku. Tanpa disadari, komunitas kecil itu telah mengubah kebiasaan membaca dua belas orang guru. Dan dua belas guru itu kemudian membawa kebiasaan tersebut ke kelas masing-masing, menularkannya ke ratusan siswa.
Komunitas adalah tanah tempat literasi berakar dan tumbuh. Jika tanahnya subur — penuh dukungan, kehangatan, dan semangat berbagi tanpa pamrih — maka pohon literasi akan tumbuh kuat dan kokoh. Akarnya akan menjangkau jauh ke dalam bumi sistem pendidikan, menyerap nutrisi dari berbagai sumber. Daunnya akan memberi naungan yang teduh bagi generasi yang akan datang, tempat mereka bisa berlindung dan bertumbuh. Tapi tanah yang subur tidak terjadi dengan sendirinya. Ia perlu dirawat oleh setiap anggota komunitas, setiap hari, dengan kesabaran dan ketekunan seorang penanam pohon yang tahu bahwa hasilnya mungkin tidak akan ia lihat dalam waktu dekat.
Saya mengajak kita semua untuk merawat komunitas tempat kita bernaung. Tidak perlu dengan tindakan besar. Cukup dengan hadir, mendengarkan, dan sesekali berbagi. Karena dari akar-akar kecil yang saling menjalin itulah literasi Indonesia akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh, yang mampu memberi naungan bagi generasi-generasi mendatang.
Sudahkah Anda menyiram tanah komunitas Anda hari ini?
Saya percaya bahwa di setiap sudut Indonesia, ada guru-guru yang diam-diam menanam. Mereka tidak mencari pujian, tidak menuntut penghargaan. Mereka hanya percaya bahwa apa yang mereka tanam hari ini, meskipun tidak terlihat, akan berbuah suatu hari nanti. Komunitas adalah tempat para penanam itu saling bertemu, saling memberi pupuk, dan saling menguatkan ketika hasil belum juga terlihat.
