Foto: Thought Catalog
Membaca Bukan Kegiatan Tambahan, Melainkan Kebiasaan Berpikir
Suatu hari saya berkunjung ke sebuah sekolah di Jawa Timur dan menyaksikan pemandangan yang sering terulang di banyak tempat. Di perpustakaan sekolah, puluhan siswa duduk di bangku panjang, masing-masing memegang buku yang sama. Seorang pustakawan berdiri di depan, memegang stopwatch. "Waktu membaca sepuluh menit dimulai dari sekarang. Selesai membaca, kalian harus menulis ringkasan. Tulis di kertas yang sudah dibagikan."
Wajah siswa-siswa itu lesu. Beberapa menghela napas panjang. Salah satu dari mereka membuka buku dengan malas, matanya menerawang ke luar jendela. Yang lain asyik menulis sesuatu di kertas ringkasan tanpa benar-benar membaca — barangkali membuat ringkasan karangan sendiri berdasarkan bayangan sepintas dari sampul buku. Yang lainnya lagi membolak-balik halaman dengan cepat, mencari kalimat pertama yang bisa disalin.
Saya tidak menyalahkan mereka. Membaca yang dipaksa dengan tenggat waktu dan kewajiban menulis ringkasan adalah bentuk lain dari pekerjaan rumah. Membaca telah berubah menjadi tugas yang harus diselesaikan, bukan kegiatan yang dinikmati. Dan ketika membaca menjadi beban, minat baca tidak akan pernah tumbuh. Yang tumbuh justru kebencian halus — siswa belajar bahwa membaca adalah aktivitas yang membosankan dan tidak menyenangkan, sehingga mereka akan menghindarinya setiap kali ada kesempatan.
Masalahnya, cara pandang seperti ini sudah mendarah daging di banyak sekolah. Membaca ditempatkan sebagai kegiatan tambahan yang baru dilakukan jika semua urusan utama sudah selesai. Bahasa yang sering digunakan: "Kalau sudah selesai mengerjakan PR, silakan membaca." Secara tidak sadar, pesan yang tersampaikan adalah: membaca adalah kegiatan kelas dua, lebih rendah dari mengerjakan PR atau menjawab soal. Yang utama adalah tugas-tugas yang bisa diukur nilainya. Membaca hanyalah pengisi waktu luang yang tidak memiliki nilai akademik.
Konsekuensinya, siswa tumbuh dengan mentalitas yang keliru. Mereka belajar bahwa membaca bukanlah prioritas. Bahwa tugas yang menghasilkan nilai lebih penting daripada pemahaman dan wawasan. Akibatnya, ketika lulus dan tidak ada lagi yang menyuruh membaca, mereka berhenti sama sekali. Budaya baca tidak pernah terbentuk karena tidak pernah ditanamkan sebagai kebiasaan yang melekat pada identitas mereka.
Saya sering merenungkan apa yang membedakan antara seseorang yang rajin membaca dan yang tidak. Jawabannya bukanlah kecerdasan, karena banyak orang cerdas yang jarang membaca. Bukan juga akses terhadap buku, karena di era digital ini bahan bacaan tersedia di genggaman. Jawabannya adalah kebiasaan — rutinitas yang dilakukan secara konsisten dan sukarela. Dan kebiasaan terbentuk dari pengalaman positif yang berulang, bukan dari tugas yang dipaksakan dengan ancaman nilai.
Seorang guru yang saya temui di Yogyakarta punya pendekatan yang berbeda. Di awal semester, ia tidak langsung memberi tugas membaca. Ia mengajak murid-muridnya ke perpustakaan, lalu berkata, "Cari buku apa pun yang kalian suka. Boleh komik, boleh novel, boleh buku resep, boleh majalah. Duduklah di mana pun kalian mau, sendiri atau berdua. Dalam empat puluh menit ke depan, tugas kalian hanya satu: membaca. Tidak ada ringkasan. Tidak ada laporan. Hanya membaca."
Beberapa siswa bingung. "Tidak ada tugas, Bu?" tanya mereka dengan curiga. "Tidak ada," jawab guru itu tenang. "Kecuali satu: nanti setelah selesai, aku akan bertanya satu hal. 'Apa yang menarik dari bacaan kalian?' Kalian jawab sesuai keinginan. Boleh panjang, boleh pendek. Boleh satu kata."
Perlahan, ketegangan di ruangan itu mencair. Siswa mulai membolak-balik halaman dengan santai tanpa tekanan. Ada yang tertawa membaca komik, ada yang duduk menyendiri menghafalkan lirik lagu dari buku kumpulan lirik, ada yang berdiskusi pelan dengan teman tentang resep kue yang ditemukannya. Satu jam kemudian, ketika guru bertanya apa yang menarik dari bacaan mereka, jawabannya beragam dan spontan. Guru itu hanya tersenyum dan menanggapi setiap jawaban dengan tulus tanpa mengoreksi.
"Saya ingin mereka merasakan bahwa membaca itu menyenangkan dulu," katanya kepada saya. "Teori tentang struktur teks, unsur intrinsik, dan ringkasan bisa menyusul. Tapi kalau pengalaman pertama mereka dengan membaca adalah tekanan, mereka akan membenci membaca seumur hidup."
Dari cerita itu saya belajar bahwa kebiasaan berpikir tidak bisa dipaksakan. Ia harus ditumbuhkan dalam suasana yang aman dan menyenangkan. Ketika siswa merasa bahwa membaca bukanlah beban, mereka akan melakukannya dengan sukarela. Dan hanya dengan kesukarelaan itulah kebiasaan membaca bisa terbentuk secara alami. Membaca setiap hari bukan karena disuruh, tapi karena ingin.
Membaca adalah latihan berpikir. Setiap halaman yang dibaca adalah latihan memproses informasi baru, memahami sudut pandang yang berbeda, dan membangun empati pada pengalaman orang lain. Semakin sering dilakukan, semakin tajam kemampuan bernalar. Tapi latihan ini hanya akan efektif jika dilakukan dengan senang hati, bukan dengan keterpaksaan. Tugas kita sebagai guru adalah menciptakan kondisi di mana membaca terasa seperti hadiah, bukan hukuman.
Sudahkah Anda memberi siswa kesempatan untuk membaca tanpa beban hari ini? Cobalah. Lepaskan mereka dari kewajiban meringkas dan menjawab pertanyaan untuk satu kali pertemuan. Biarkan mereka tenggelam dalam halaman-halaman yang mereka pilih sendiri. Dan lihatlah apa yang terjadi pada wajah mereka ketika bel pulang berbunyi dan mereka masih asyik membaca. Momen itu, ketika membaca terasa terlalu sayang untuk dihentikan, adalah awal dari kebiasaan yang akan menemani mereka seumur hidup.
Mari kita jadikan membaca sebagai kegiatan yang dinantikan, bukan tugas yang dihindari. Mulailah dari hal yang paling sederhana: tersenyumlah ketika seorang siswa datang membawa buku. Dengarkan dengan antusias ketika ia bercerita tentang cerita yang dibacanya. Karena dari sambutan kecil itulah kecintaan pada membaca bertunas.
