Foto: Susan Wilkinson
Mengapa Guru Bahasa Indonesia Perlu Menjadi Penggerak Literasi
Ruang guru di sebuah SMP di pinggiran kota. Jam istirahat kedua, dan di sudut ruangan, dua orang guru Bahasa Indonesia duduk berhadapan. Satu di antaranya, perempuan muda yang baru mengajar tiga tahun, membuka setumpuk buku tugas dan menghela napas panjang.
"Pak, saya bingung," katanya. "Anak-anak saya minta membaca teks eksplanasi tentang perubahan sosial. Mereka baca keras-keras, semua lancar, tidak ada yang tersendat. Tapi ketika saya tanya apa inti bacaan itu, mereka diam. Satu kelas. Saya ulangi pertanyaannya, tetap diam. Akhirnya saya yang menjawab sendiri."
Guru di hadapannya, lelaki dengan rambut mulai memutih di pelipis, meletakkan gelas kopinya pelan-pelan. "Menurutmu, Bu, apa artinya membaca?"
"Ya, membaca itu memahami, Pak. Menangkap makna dari tulisan."
"Nah. Murid-muridmu bisa melafalkan huruf dan kata dengan sempurna. Tapi apakah mereka benar-benar membaca? Atau hanya menyuarakan simbol tanpa mengerti?"
Guru muda itu terdiam. Kopi di depannya sudah dingin.
Percakapan itu, dalam berbagai versi, mungkin terjadi di ribuan ruang guru di seluruh Indonesia setiap harinya. Ada kesenjangan yang menganga antara kemampuan melafalkan dan kemampuan memahami. Dan guru Bahasa Indonesia, yang setiap hari bergelut dengan teks dan makna, adalah pihak yang paling pertama merasakan dampaknya.
Saya sering merenungkan apa yang membuat seseorang menjadi pembaca sejati. Bukan sekadar bisa membaca secara teknis, tetapi memilih untuk membaca dan mampu menarik makna dari apa yang dibaca. Dua hal yang sangat berbeda, tapi keduanya sama pentingnya. Sayangnya, sistem pendidikan kita lebih banyak mengajarkan yang pertama dan jarang menyentuh yang kedua. Akibatnya, kita menghasilkan lulusan yang bisa membaca secara harfiah, tetapi tidak memiliki kebiasaan membaca atau kemampuan memaknai secara kritis. Mereka lulus ujian bahasa, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi pembaca.
Seorang guru yang saya kenal di sebuah kabupaten di Jawa Tengah punya kebiasaan sederhana yang menginspirasi banyak rekan sejawat. Setiap pagi, lima belas menit sebelum bel masuk, ia duduk di kursi di depan kelas dan membacakan cerita. Bukan buku pelajaran. Buku cerita rakyat, novel remaja, atau artikel dari majalah. Ia membacakan dengan suara yang hidup — memberi intonasi pada dialog, jeda pada adegan menegangkan, dan kadang mengomentari sepenggal kalimat yang menurutnya indah. Tidak ada tugas menyusul. Tidak ada kewajiban merangkum. Hanya membacakan dan menikmati cerita bersama. Setelah beberapa minggu, ia mulai melihat perubahan. Siswa-siswanya yang awalnya malas membaca mulai bertanya, "Bu, besok bacain cerita apa?" Pertanyaan sederhana yang membuat hatinya meleleh.
Gerakan literasi tidak selalu dimulai dari program besar yang dicanangkan pemerintah dengan anggaran miliaran rupiah. Saya percaya bahwa literasi sejati lahir dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan dengan konsisten dan penuh cinta. Guru yang membacakan cerita di pagi hari, guru yang menyediakan pojok baca di kelas, guru yang memberi kebebasan memilih buku, guru yang tidak menghukum siswa dengan bacaan — mereka adalah penggerak literasi yang sesungguhnya. Gerakan mereka tidak diukur dari jumlah spanduk atau frekuensi rapat, tetapi dari perubahan kecil yang terjadi di wajah siswa ketika menemukan buku yang membuat mereka tidak bisa berhenti membacanya.
Tapi menjadi penggerak literasi tidaklah mudah. Guru dihadapkan pada tuntutan kurikulum yang padat, administrasi yang menggunung, dan target nilai ujian. Waktu untuk sekadar duduk dan membaca bersama siswa sering kali dikorbankan. "Tidak sempat," kata mereka. "Materi saja belum selesai." Sayangnya, ketika materi dianggap lebih penting daripada kebiasaan membaca, literasi akan sulit tumbuh. Ironisnya, tanpa literasi yang kuat, materi-materi itu pun tidak akan tertanam dengan baik, karena pemahaman bacaan adalah fondasi semua mata pelajaran.
Saya teringat pada pengalaman seorang guru di Kalimantan Barat. Sekolahnya tidak memiliki perpustakaan yang layak. Buku-buku di rak hanya itu-itu saja, sebagian sudah usang dan tidak relevan. Tidak putus asa, ia memulai program "satu siswa satu buku" di awal semester. Setiap murid diminta membawa satu buku bacaan dari rumah — apa saja yang mereka miliki — untuk ditempatkan di rak pojok kelas. Hasilnya sederhana tapi menggembirakan: dalam sebulan, rak yang tadinya kosong berubah menjadi penuh. Ada buku cerita anak, komik, novel, buku masakan, buku agama, bahkan buku panduan merawat kucing. Tidak ada yang istimewa secara estetik, tapi buku-buku itu menjadi milik mereka. Mereka saling meminjamkan, saling merekomendasikan. Sekolah itu, tanpa anggaran besar, berhasil menghidupkan budaya baca hanya karena seorang guru tidak menyerah pada keterbatasan.
Guru Bahasa Indonesia memiliki posisi yang strategis karena merekalah yang paling sering berinteraksi dengan teks. Setiap hari mereka berhadapan dengan bacaan, diskusi, dan tulisan. Jika mereka bisa menggeser paradigma bahwa membaca bukanlah sekadar kegiatan akademik melainkan kebutuhan berpikir, maka budaya literasi di Indonesia akan berubah dari akarnya. Sebab perubahan tidak dimulai dari gedung megah atau program televisi. Ia dimulai dari satu ruang kelas, satu guru, dan satu cerita yang dibacakan di pagi hari.
Mari kita tanya pada diri sendiri: apa yang bisa saya lakukan, mulai besok pagi, untuk menjadikan literasi lebih hidup di kelas saya? Jawabannya tidak perlu rumit. Membacakan satu cerita pendek. Menyediakan waktu sepuluh menit untuk membaca diam. Atau sekadar bertanya pada siswa, "Apa yang sedang kamu baca akhir-akhir ini?" Siapa tahu, dari pertanyaan sederhana itu, sebuah percakapan panjang tentang buku dimulai. Dan dari percakapan itulah kebiasaan membaca lahir.
