
Mengeja Bebas dalam Gelap
Merah putih berkibar di tiang besi,
tapi di ruang kelas ini, angin tak pernah sungguh masuk.
Aku berdiri di balik meja kayu yang mulai lapuk,
mengeja kata "merdeka" di atas papan hitam,
sementara tanganku gemetar—
tak tahu ke mana harus membimbing anak-anak ini pergi.
Negeri ini riuh merayakan bebasnya tanah dari penjajah,
namun kami, para penuntun, masih terikat tali yang tak kasatmata.
Kami diminta melahirkan bintang di langit luas,
tapi kompas kami dipatahkan,
dibiarkan berdiri sendiri di tengah badai kurikulum yang terus berganti.
Bagaimana cara menenun kecerdasan bangsa,
jika jemari guru terus dibiarkan gemetar dalam gelap?
Kami hanya disuruh berlari,
tanpa pernah diberi peta,
tanpa tahu apakah langkah ini memerdekakan,
atau justru memenjarakan masa depan.
Aku mencintai tanah air ini dengan seluruh napas,
tapi merdeka belum singgah di papan tulis kami.
Kami masih berjuang,
bukan lagi melawan meriam,
melainkan melawan kesepian dan arah yang hilang.