Foto: Patrick Tomasso
Menghidupkan Sastra di Sekolah Melalui Percakapan yang Dekat
"Pak, saya tidak ngerti. Kenapa penyair ini nulis 'aku ini binatang jalang'? Emang dia benar-benar binatang?"
Pertanyaan siswa kelas 11 itu membuat saya tersenyum. Kami sedang membahas puisi Chairil Anwar, dan seorang murid lelaki di barisan belakang mengangkat tangan dengan wajah serius bingung.
"Menurut kamu, kenapa dia memilih kata 'binatang jalang'?" saya balik bertanya, memberi waktu padanya untuk berpikir.
"Ya, mungkin karena dia merasa tidak punya tempat tinggal. Atau..." ia berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan pena ke meja, "atau dia memberontak. Binatang jalang itu kan bebas, Pak. Tidak diatur siapa-siapa. Mungkin dia marah dengan keadaan hidupnya."
"Menarik. Dari mana kamu mendapat ide itu?"
"Dari lirik lagu, Pak. Banyak lagu yang pakai kata-kata seperti itu untuk nyatain kemarahan atau kebebasan."
Kelas tertawa, tapi saya senang. Ia menghubungkan puisi yang ditulis tahun 1943 dengan pengalamannya sebagai pendengar musik modern. Tanpa saya suruh, tanpa saya pandu, ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pembaca sastra: menghubungkan teks dari masa lalu dengan pengalaman hidupnya sendiri di masa kini.
Pendekatan yang paling alami untuk mendekati sastra adalah percakapan. Bukan ceramah satu arah dari guru ke siswa, bukan analisis teknis yang kering dan penuh istilah. Tapi percakapan dua arah yang memberi ruang bagi siswa untuk merespons dengan cara mereka sendiri. Ketika siswa merasa pendapatnya dihargai, mereka akan lebih berani berbicara. Dan dari keberanian itulah pemahaman yang sesungguhnya lahir.
Sayangnya, pendekatan percakapan ini jarang terjadi di kelas. Saya pernah mengamati sebuah pelajaran sastra di suatu sekolah. Guru masuk kelas, menulis judul puisi di papan tulis, lalu langsung menjelaskan: "Puisi ini menggunakan majas personifikasi karena..." Siswa mencatat dengan patuh. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang mengangkat tangan. Puisi selesai dibahas dalam dua puluh menit, dan kelas beralih ke materi berikutnya. Selesai sudah. Saya bertanya-tanya: apa yang tersisa di kepala siswa setelah pelajaran itu? Mungkin mereka bisa menyebutkan definisi majas personifikasi dalam ujian. Tapi apakah mereka merasakan apa yang dirasakan penyair ketika menulis puisi itu? Apakah ada satu baris pun yang tinggal di hati mereka, yang membuat mereka ingin membacanya lagi di malam hari?
Seorang guru di Nusa Tenggara Timur mengajarkan sastra dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia memulai kelas puisi dengan mematikan lampu dan menyalakan lilin di meja. Kebetulan di desanya sering mati lampu, jadi lilin bukanlah hal asing. Dalam temaram cahaya lilin, ia membacakan puisi dengan suara pelan dan penuh penghayatan. Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan. Hanya suara dan kata-kata yang mengalun dalam gelap, merambat ke telinga setiap siswa.
"Setelah selesai, saya minta mereka tutup mata selama satu menit," ceritanya. "Lalu saya minta mereka menggambar apa pun yang terbayang setelah mendengar puisi itu. Bisa abstrak, bisa figuratif. Terserah mereka."
Hasilnya mengejutkan. Siswa yang biasanya diam di kelas menghasilkan gambar-gambar yang ekspresif dan penuh makna. Ada yang menggambar laut bergelombang, ada yang menggambar pohon tumbang, ada yang menggambar sesosok bayangan manusia, ada yang hanya coretan abstrak penuh warna. Mereka lalu diminta menjelaskan gambar mereka dalam beberapa kalimat singkat. Tanpa disadari, mereka sedang melakukan interpretasi sastra — tetapi dengan cara yang alami, tanpa tekanan, tanpa rasa takut salah.
"Sastra adalah soal rasa dulu, baru soal analisis," kata guru itu. "Kalau rasanya tidak sampai, analisis hanya akan jadi hafalan kosong yang mudah dilupakan. Tapi kalau rasa sudah menyentuh hati, analisis akan mengikuti dengan sendirinya."
Saya sangat setuju. Mengajar sastra dengan percakapan yang dekat berarti memberi siswa izin untuk merasakan terlebih dahulu, sebelum mereka diminta menganalisis. Biarkan mereka mengatakan, "Ini membingungkan," atau "Ini indah," atau "Saya tidak suka puisi ini." Setiap respons, positif atau negatif, adalah pintu masuk untuk diskusi yang lebih dalam dan bermakna. Guru tidak perlu menjadi satu-satunya penafsir yang benar. Tugas guru adalah menjadi fasilitator yang menjaga percakapan tetap hidup dan aman bagi semua orang.
Salah satu teknik sederhana yang bisa dicoba adalah mengajukan pertanyaan terbuka yang tidak memiliki satu jawaban benar. Alih-alih "Apa tema puisi ini?" yang jawabannya sudah tercetak di buku kunci, coba tanya "Bagaimana perasaanmu setelah membaca puisi ini?" atau "Baris mana yang paling membuatmu berpikir dan mengapa?" Pertanyaan-pertanyaan ini mengundang siswa untuk merenung dan berbagi tanpa takut dianggap salah. Dan dari situlah percintaan dengan sastra dimulai — bukan dari kewajiban menghafal, tapi dari rasa ingin tahu yang dihargai.
Pada akhirnya, sastra bukanlah tentang menemukan satu makna yang benar. Ia adalah tentang proses menemukan, tentang perjalanan memahami, tentang kegembiraan ketika sebuah baris puisi tiba-tiba berbicara langsung pada hati kita. Dan sebagai guru, tugas kita bukanlah memberikan jawaban, tetapi menemani siswa dalam perjalanan penemuan mereka.
Seperti yang saya alami ketika murid saya bertanya tentang "binatang jalang" — saya tidak perlu menjelaskan definisi majas atau memberikan jawaban yang sudah jadi. Saya hanya perlu mendengarkan, menghargai setiap pendapat, dan membiarkan percakapan mengalir. Dari pertanyaan sederhana seorang anak, kelas saya berubah menjadi ruang diskusi yang hangat, tempat setiap orang punya hak untuk bertanya, merasakan, dan menemukan maknanya sendiri. Bukankah itu yang seharusnya terjadi dalam setiap pelajaran sastra?
