Foto: Greyson Joralemon
Sastra sebagai Jalan Mengenal Manusia dan Bahasa
Saya masih ingat pertama kali membaca puisi Chairil Anwar di depan kelas. Hari itu saya membacakan "Aku" dengan suara yang saya usahakan penuh penghayatan. Ketika selesai, kelas hening selama beberapa detik. Hening yang berbeda — bukan karena bosan, tapi karena terkena sesuatu. Kemudian dari sudut kanan, seorang murid lelaki bertanya, "Pak, kenapa dia bilang 'aku mau hidup seribu tahun lagi'?"
Pertanyaan sederhana yang membuka percakapan yang tidak terduga. Murid-murid mulai berdebat. Ada yang bilang itu sombong. Ada yang bilang itu semangat anak muda. Seorang murid perempuan yang biasanya pendiam di kelas tiba-tiba berkata dengan suara lantang, "Menurut saya dia takut mati. Makanya dia pengin hidup lama."
Kelas terdiam. Lalu diskusi berlanjut semakin seru. Mereka saling mempertahankan pendapat, saling memberi argumen. Tidak ada yang saya jelaskan tentang majas, diksi, atau rima hari itu. Tapi semua orang terlibat, semua merasa punya pendapat dan berhak menyuarakannya. Puisi yang tadinya hanya kumpulan kata di buku cetak tiba-tiba menjadi hidup, menjadi milik mereka. Setiap siswa menemukan maknanya sendiri, dan semua makna itu valid.
Sastra memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh teks lain. Ia berbicara langsung pada perasaan sebelum pada pikiran. Ketika mengajarkan cerpen, saya sering melihat siswa yang tadinya tidak antusias tiba-tiba larut dalam alur cerita. Ada yang marah ketika tokoh jahat menang. Ada yang menahan air mata ketika tokoh utama mengalami kegagalan. Ada yang tertawa lepas ketika ada adegan lucu. Emosi-emosi ini nyata, dan itu berarti sastra telah melakukan tugasnya sebagai cermin kehidupan.
Di sebuah sekolah di Flores Timur, saya bertemu dengan seorang siswi yang menulis puisi setiap malam. Guru Bahasa Indonesianya bercerita bahwa siswi itu tidak pernah banyak bicara di kelas. Ia tipe yang pendiam, pemalu, jarang mengangkat tangan. Tapi setiap pagi, sebelum bel masuk, ia menyelipkan selembar kertas berisi puisi di atas meja guru. Puisi-puisinya berbicara tentang laut yang ia rindukan di kampung halamannya, tentang ayah yang bekerja merantau, tentang rasa sepi yang tidak bisa ia ungkapkan dalam percakapan biasa. Guru itu kemudian mengumpulkan puisi-puisi itu dan membacakannya di kelas setelah meminta izin. Teman-temannya baru sadar bahwa selama ini mereka tidak pernah benar-benar mengenal gadis pendiam itu. Sastra telah menjadi jembatan antara dirinya dan dunia.
Saya sering berpikir bahwa kesalahan terbesar kita dalam mengajar sastra adalah menjadikannya sebagai objek analisis yang dingin. Unsur intrinsik, ekstrinsik, majas, amanat — semua istilah ini penting, tapi jika disajikan tanpa konteks yang hangat, sastra kehilangan jiwanya. Siswa menjadi ahli dalam mengidentifikasi metafora, tetapi kehilangan kemampuan untuk merasakan keindahan metafora itu sendiri. Mereka bisa menyebutkan tema sebuah puisi dengan tepat, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa puisi itu membuat mereka tersentuh atau tidak sama sekali. Mereka lulus ujian sastra dengan nilai baik, tetapi tidak pernah benar-benar mencintai sastra. Ini ironi yang menyedihkan.
Padahal, sastra pada esensinya adalah cara manusia memberi makna pada pengalaman hidup. Setiap puisi adalah upaya menangkap momen yang akan lenyap ditelan waktu. Setiap cerpen adalah potret hubungan antarmanusia yang rumit. Setiap novel adalah perjalanan panjang memahami kompleksitas dunia dan diri sendiri. Jika kita mengajari sastra hanya sebagai kumpulan konsep yang harus dihafalkan, kita telah kehilangan inti dari apa yang membuatnya berharga. Kita telah mengubah keindahan menjadi rumus.
Guru memiliki peran kunci untuk membukakan pintu ini. Caranya tidak perlu muluk: bacakan puisi dengan sungguh-sungguh, izinkan siswa merespons secara personal, hargai setiap interpretasi, dan biarkan sastra berbicara pada hati mereka terlebih dahulu. Teori bisa menunggu nanti. Yang pertama dan terutama adalah pengalaman. Jika siswa pernah merasakan getaran saat membaca baris puisi, atau pernah meneteskan air mata membaca akhir cerita, maka sastra telah melakukan tugasnya. Siswa tidak akan pernah melupakan pengalaman itu, bahkan setelah mereka dewasa dan mungkin lupa mana yang dimaksud dengan majas personifikasi. Sebab sastra bukanlah tentang apa yang diajarkan. Ia adalah tentang apa yang dirasakan. Dan rasa tidak pernah hilang.
Saya berharap semakin banyak guru yang berani mengambil pendekatan ini. Tidak perlu menunggu pelatihan formal atau arahan dari dinas. Cukup mulai dari kelas sendiri: pilih satu puisi, bacakan dengan sepenuh hati, dan buka ruang bagi siswa untuk merespons. Dari situlah keajaiban sastra dimulai — bukan dari teori yang dihafalkan, tetapi dari rasa yang disentuh.
Saya masih ingat wajah seorang siswa yang datang setelah jam pelajaran sastra berakhir. Ia duduk di kursi depan dan berkata pelan, "Pak, saya mau pinjam buku kumpulan puisi yang tadi Bapak bacakan." Siswa itu, yang selama satu semester tidak pernah menunjukkan minat pada pelajaran apa pun, tiba-tiba mengulurkan tangan untuk sebuah buku. Itu adalah momen kecil yang hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bagi saya itu adalah kemenangan. Sastra telah memanggilnya.
Saya percaya setiap guru punya satu momen seperti itu dalam kariernya. Momen ketika sastra bukan lagi materi pelajaran, tetapi pengalaman yang menyentuh. Momen ketika kita sadar bahwa mengajar sastra bukanlah tentang mentransfer pengetahuan, melainkan tentang membuka pintu. Dan ketika pintu itu terbuka, siswa akan masuk dengan sendirinya, karena di dalamnya mereka menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari: cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar mereka.
