
Urgensi Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas
Kualitas penggunaan kosakata Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) saat ini mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini diakibatkan karena dominasi bahasa gaul (slang) dan istilah asing di media sosial yang begitu cepat berkembang tanpa mengenal usia . Banyak siswa yang kesulitan mengekspresikan gagasan secara sistematis, runtut dan formal karena keterbatasan diksi (pilihan kata) yang mereka miliki. Fenomena ini bukan sekadar masalah komunikasi harian, melainkan ancaman serius terhadap kemampuan literasi akademik siswa. Ketika seorang remaja tidak menguasai kosakata baku yang kaya, mereka akan mengalami hambatan besar dalam memahami teks-teks ilmiah, menyusun karya tulis, hingga melakukan penalaran kritis yang dibutuhkan pada jenjang perguruan tinggi. Tanpa adanya tindakan nyata, generasi muda kita akan kehilangan kemampuan berpikir logis-analitis hanya karena mereka tidak memiliki kecukupan kosakata untuk merumuskan isi kepala mereka secara sistematis.
Oleh karena itu, demi menyelamatkan masa depan intelektual bangsa, mari kita revitalisasi budaya berbahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan sekolah. Para guru dan pemangku kebijakan di SMA harus bergerak bersama untuk menciptakan ekosistem belajar yang kaya akan literasi, salah satunya dengan membiasakan penggunaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan utama. Sebagai siswa, mulailah menantang diri untuk memperkaya diksi harian melalui bacaan yang berbobot dan beranilah menggunakan kosakata baku tersebut dalam diskusi maupun presentasi di kelas. Jangan biarkan bahasa pemersatu ini tergerus oleh arus zaman.
Mari kita jadikan penguasaan kosakata yang luas bukan sebagai beban hafalan, melainkan sebagai sebuah kebanggaan dan identitas diri. Gunakan bahasa Indonesia yang bermartabat di lingkungan sekolah sekarang juga, demi melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga fasih dan berkarakter saat memimpin bangsa di masa depan.